Al Faatihah, ayat 1

Bahasan Surat     : Al Faatihah, ayat 1 – 01

Ayat Pertama       : basmallah

Diterjemahkan     : Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Narasumber          : Ust. H. Aqib Musthofa


Rasulullah SAW bersabda, yang artinya kurang lebih: “Barangsiapa yang melakukan amal perbuatan tanpa didahului basmallah, maka amalnya itu akan terputus”.

Karena itu agar nilai amal itu bisa dikekalkan di akhirat, harus selalu didahului dengan basmallah.

Kalimat basmallah yang merupakan kalimat pembuka Al Qur’an dan pendahulu setiap amal, dapat diartikan sebagai kalimat perkenalan dari Allah SWT. Mari kita bahas setiap kata pembentuknya.

AL ISMU

Jika kita ingin berkenalan dengan seseorang, maka biasanya kita akan melewati beberapa tahap.

Tahap Pertama : Tahap Indra

Pada tahap ini kita mendengar nama dan melihat rupa. Dengan mengetahui nama, kita bisa menyebutnya,  memanggilnya, dan menghubunginya. Karena itu, Al Ismu sering diterjemahkan sebagai NAMA -> Bismillah ≈ Dengan Nama Allah.

Tetapi dengan terjemahan seperti itu, rasanya kurang mengena bagi diri kita, karena itu kita perlu masuk ke tahap berikutnya.

Tahap Kedua : Tahap Otak

Setelah berkenalan nama, jika kita tertarik untuk mengenal seseorang lebih jauh lagi, biasanya kita akan berpikir dan mencari tahu identitasnya: Siapa dia sebenarnya? Dimana tinggalnya? Apa pekerjaannya? Apa statusnya? Dan lain-lain pertanyaan lagi. Dengan mengetahui jawaban pertanyaan-pertanyaan itu, kita akan mempunyai gambaran lebih jelas bagaimana keadaan orang itu sebenarnya.

Al Ismu pada basmallah dapat juga kita terjemahkan sebagai IDENTITAS -> Bismillah ≈ Dengan Identitas Allah.

Identitas Allah paling mudah dapat dilihat pada diri kita. Contoh: Kita bisa hidup karena jantung tetap berdenyut, paru-paru tetap memompa, otak tetap bekerja – terus tanpa kita sadari. Itulah identitas Allah yang tidak perlu dan tidak pernah istirahat.

qs57-4

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada”   (QS.57:4)

qs2-115

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS.2:115)

Pepatah Sufi :

“Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya”

Tahap ketiga : Tahap Hati

Setelah mengetahui lebih detail melalui identitasnya, barulah kita memasuki tahap mengenal yang sesungguhnya, yaitu kita mengenal sifat / karakter orang tersebut. Jika kita sudah mengenal sifatnya barulah kita bisa memberi title pada orang tersebut, apakah itu sebagai teman, kekasih, atau musuh.

Karena itu Al Ismu akhirnya bisa diterjemahkan sebagai SIFAT-> Bismillah ≈ Dengan Sifat Allah.

Sifat Allah yang kita kenal ada 99, yang ada dalam Asmaul Husna. Didalam basmallah disebutkan dua sifat yaitu ArRahmaan dan ArRahiim, Pengasih dan Penyayang. Sehingga jika kita mulai suatu amal/pekerjaan dengan kalimat basmallah, maka pada saat melakukannya kita harus berakhlak Pengasih dan Penyayang.

“ Berakhlaklah kamu dengan akhlak Allah”

Ukuran kedekatan kita dengan Allah SWT sesungguhnya bisa dilihat dari seberapa jauh sifat kita mengikuti sifat Allah. Seluruh 99 sifat Allah adalah sifat-sifat yang mulia. Karena itu jika kita mengaku semakin dekat kita dengan Allah seharusnya sifat-sifat kitapun menjadi mulia.

Hal ini mengingatkan kita pada pentingnya selalu berprasangka baik pada Allah SWT. Allah pasti melakukan segala sesuatu dengan dasar sifat pengasih dan penyayangNya.

qs10-44

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.” (QS.10:44)

qs16-96

“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS.16:96)


Kisah Teladan

Pak Hadi seorang penjual arem-arem di Malang. Tidak berpendidikan. Berjualan arem-arem selama 28 thn. Bisa membesarkan dan menyekolahkan 8 orang anak hingga tuntas. Bisa pergi haji. Ketika ditanya resepnya, dia menjawab:

  1. Memberi sebelum diminta
  2. Tidak pernah menyakiti orang lain, selalu menyenangkan

Ketika ditanya siapa menghidupi 8 anaknya? Beliau tidak menunjuk dirinya sendiri tetapi menjawab: “Ya, bapak-bapak ini.” (sambil menunjuk para pelanggannya).

Apakah Pak Hadi sudah menunjukkan sifat-sifat Allah?

Bagaimana dengan diri kita?

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: