Al Faatihah, ayat 1 (3)

Bahasan Surat     : Al Faatihah
Ayat Pertama       : basmallah
Diterjemahkan     : Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Narasumber          : Ust. H. Aqib Musthofa


ARRAHMAAN ARRAHIIM  [ ArrahmanArrahim  ]

Dari segi bahasa, para ahli memiliki beberapa pendapat mengenai asal katanya:

1.   Arrahmantidak terdiri dari akar kata, karena tidak ditemukan bentuk jamaknya di dalam Al Qur’an. Menurut para ahli, kata ini bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan bahasa Ibrani (bahasa kitab-kitab terdahulu).

Karena itu, dulu pada perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah SAW menginstruksikan agar diawali dengan kalimat basmallah, tetapi ditolak oleh kafir Quraisy. Alasannya mereka tidak mengenal kata ArRahmaan. Akhirnya ditulis Bismillahi Rabbik.

Karena tidak berakar kata, maka Arrahman dianggap sebagai nama khusus, yang hanya boleh disandang oleh Allah.

Arrahimdianggap memiliki akar kata, karena didalam Al Qur’an ada bentuk jamaknya, yaitu Ruhama.

2.  Rahima   ->     Rohamu    ->     Rahmatan   ->   ArRahman

Menurut pendapat Muhammad Abduh:

Didalam ilmu Sharaf, kata Rahmaanun memiliki timbangan (wazan), yaitu fa’laanun. Memiliki arti Kesempurnaan dan Kesementaraan. Maksudnya adalah bahwa nikmat Allah itu sempurna, namun bersifat sementara yaitu di dunia saja.

Sementara kata Rahiimun, memiliki wazan, yaitu fa’iilun. Memiliki arti Berkesinambungan dan Kemantapan. Maksudnya adalah bahwa nikmat Allah itu terus menerus hingga ke alam akhirat dan sifatnya mantap, tetap, kekal.

Rujukannya adalah QS. Al A’raaf : 32.

qs7-32

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat[536].” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.

[536]. Maksudnya: perhiasan-perhiasan dari Allah dan makanan yang baik itu dapat dinikmati di dunia ini oleh orang-orang yang beriman dan orang-orang yang tidak beriman, sedang di akhirat nanti adalah semata-mata untuk orang-orang yang beriman saja.

Dalam sebuah hadits Qudsi dikatakan:

“ Nikmat di sisi Allah ada 100 macam. Hanya 1 yang diturunkan di dunia untuk seluruh makhluk, sementara 99 lainnya hanya akan diberikan untuk orang-orang beriman di akhirat. “

Didalam QS. Al A’raaf : 156, dikatakan bahwa rahmat Allah meliputi segala sesuatu (seluruh makhluk), dan untuk orang-orang beriman, bertakwa dan menunaikan zakat, maka rahmat itu ditetapkan (dikekalkan).

 qs7-156

Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.”

Jadi, kesimpulannya adalah:

Arrahman  adalah sifat kasih sayang Allah untuk seluruh makhluk di dunia.

Arrahim   adalah sifat kasih sayang Allah khusus untuk orang-orang beriman di akhirat.

Kasih sayang Allah pada makhluknya begitu besar. Pada sebuah hadits qudsi dikatakan:

“Sesungguhnya kasih sayangKu mengalahkan amarahKu”

Sehingga bila seseorang berbuat kesalahan, lalu bertobat, pasti cepat diampuni.

qs9-104

Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang? (QS.9:104)

 qs24-10

Dan andaikata tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya atas dirimu dan (andaikata) Allah bukan Penerima Taubat lagi Maha Bijaksana, (niscaya kamu akan mengalami kesulitan-kesulitan). (QS.24:10)

Perbedaan antara sifat Rahman Allah dengan sifat Rahman makhluk:

  • Sifat Rahman Allah, bukan untuk kepentingan Allah tetapi untuk makhlukNya.

Contohnya matahari sebagai identitas Allah. Semua makhluk mendapatkan sinar dan kehangatan yang sama. Jika ada yang tidak menerima, itu karena posisinya (misalnya dibawah pohon, atau didalam rumah). Begitu pula rizki Allah, penerimaannya tergantung pada posisi orang itu (perbedaan pekerjaan, ilmu, pola pikir, usaha)

  •  Sifat Rahman makhluk, walaupun sedikit pasti ada pamrihnya.

Contohnya: jika seseorang menolong orang lain karena merasa kasihan melihatnya, maka sesungguhnya ada pamrih diri yaitu menolong dirinya sendiri agar tidak merasa sedih lagi.

Dari sudut aqidah:

Hanya Allah yang dapat MEMBERI, karena hanya Allah yang mempunyai persyaratan untuk memberi, yaitu MEMILIKI. Segala sesuatu adalah milik Allah.

qs57-2

Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS.57:2)

Jadi saat kita memberi sesuatu pada orang lain, sebenarnya yang memberi itu adalah Allah. Allah-lah yang menggerakkan hati kita untuk memberi. Karena itu jika kita bisa memberi, bersyukurlah karena Allah telah memilih kita untuk menjadi kepanjangan tanganNya. Jika kita bersyukur, maka kita akan menjadi lebih mulia dihadapan Allah.

qs31-12

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Jadi, janganlah MERASA MEMILIKI, agar amal tidak ternodai, dan ridho Allah tidak terhalangi.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: