Al Faatihah, ayat 2 (1)

Bahasan Surat     :  Al Faatihah
Ayat Kedua          :Hamdalah
Diterjemahkan     : Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam
Narasumber          : Ust. H. Aqib Musthofa


AL HAMDU LILLAH   [ Alhamdulillah ]

Pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, kita sudah membahas mengenai kalimat Basmallah.

Basmallah merupakan kalimat pernyataan manusia bahwa hanya dengan Ismullah manusia bisa beraktifitas.

Pernyataan ini dilanjutkan dengan kalimat Hamdallah. Kalimat ini merupakan pengakuan bahwa segala nikmat yang dirasakan adalah milik Allah semata.

Pada umumnya, kalimat Alhamdulillah diterjemahkan sebagai “Segala Puji bagi Allah”. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah: apakah Allah membutuhkan pujian? Di dalam Al Qur’an tidak pernah ada ayat yang menyatakan demikian. Terjemahan semacam ini merupakan terjemahan yang keluar dari perasaan manusia yang merasakan nikmat dari Allah, dan dari perasaan manusia yang butuh dipuji.

Karena itu mari kita bahas satu persatu.

[Alhamdu]  AL HAMDU  =  AL + HAMDU

AL dalam bahasa Arab adalah Al Ma’arifah, mengandung arti kepastian / kejelasan.

Hamdu  vs  Al Hamdu, persamaannya adalah seperti :

a book vs the book  -> sebuah buku (belum jelas) vs buku itu (sudah jelas)

Al Hamdu adalah kata benda. Wujudnya menunjuk pada seluruh ciptaan Allah.

Untuk lebih jelasnya kita bisa mengambil perumpamaan berikut:

Seseorang tersesat di sebuah gurun pasir. Ia haus sekali, tenggorokannya begitu kering. Tidak ada yang lebih diharapkannya kecuali seteguk air. Tiba-tiba ia melihat sebuah mata air yang keluar dari balik bebatuan. Segera dihampirinya, diambilnya air itu dengan dengan tangannya, lalu diteguknya air itu. Saat itu hatinya mengucap “Alhamdulillah”.

Dari perumpamaan diatas, yang menjadi Al Hamdu adalah air yang diteguknya. Benda yang membuat orang itu merasakan kenikmatan dari Allah adalah air itu. Dalam bahasa manusia, benda itu disebut air. Tetapi dari Allah kepada manusia, benda itu disebut Al Hamdu.

Maka sekarang jelas hubungan antara ayat pertama dan kedua. Kita melihat Al Ismu Allah disemua ciptaan Allah, yang berarti segala sesuatu adalah identitas dan melambangkan sifat dari Allah, sehingga kita tidak bisa berbuat apa-apa tanpa Ismullah. Kemudian kita merasakan Al Hamdu, membuat kita bisa merasakan nikmat yang diberikan Allah pada manusia.

Seperti halnya Ismullah, maka Al Hamdu yang paling mudah dirasakan adalah diri kita sendiri.

[Lillah] LILLAH = milik Allah

Jadi Al Hamdu adalah milik Allah. Sehingga Al Hamdu bisa diterjemahkan sebagai : segala sarana / alat yang diberikan Allah pada kita untuk mengabdi pada Allah.

qs51-56

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS 51:56)

Maka bila kita mempergunakan segala sesuatu tidak untuk menyempurnakan ibadah, berarti kita sudah berlaku durhaka kepada Allah. Pengakuan kita hanya sampai pada Alhamduli (milikku) tidak sampai Lillah (milik Allah), inilah sumber segala perbuatan buruk.

Segala sesuatu adalah milik Allah, jadi kita tidak perlu mengaku-aku atau merasa-rasa memilikinya. Buktinya adalah tidak ada sesuatupun di dunia ini yang kita anggap sebagai milik kita, bisa kita pertahankan.

qs16-96

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS 16:96)

Orang yang berhasil menjaga amanah Al Hamdu sebagai Lillah, inilah yang disebut dengan MUHAMMAD (= Mim + Hamdu), yaitu orang yang seluruh hidupnya dipergunakan untuk mengabdi kepada Allah.

RABBIL ‘AALAMIIN [RabbilAlamin]

Rabbi : ialah Allah yang menciptakan, yang memelihara, yang mengurus.

Al Alamin : ialah alam semesta.

Alam semesta yang begitu besar ini tidak akan ada yang bisa memeliharanya atau mengurusnya, kecuali Allah.

Al Hamdu adalah bagian dari Al Alamin. Permisalannya adalah seperti ini:

Gula, didunia ini banyaknya berjuta-juta ton. Kita membeli gula 1 kg. Lalu dirumah kita mengambil 1 sendok untuk membuat teh. Teh itu kita minum, rasanya manis karena gula.

Maka Al Hamdu disini adalah gula 1 sendok yang kita rasakan. Itulah Al Hamdu yang bisa kita jaga, pergunakan untuk ibadah. Sementara seluruh gula sisanya di dunia, adalah Al Alamin. Kita tidak punya kekuatan unuk menjaga dan mengurusnya. Itu adalah urusan Allah.

Perbedaan “menitipkan” antara Allah dan manusia:

  • Allah menitipkan segala sesuatu pada manusia, disuruh dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia. Bahkan diberi tahu cara penggunaannya agar tidak salah langkah (Al Qur’an dan Hadits).
  • Manusia menitipkan sesuatu pada orang lain, sudah pasti bukan dengan tujuan agar dipergunakan. Menitipkan berarti hanya menjaganya tanpa memanfaatkannya.

Secara Aqidah:

Bila kita mempergunakan segala sesuatu titipan Allah bukan untuk mengabdi pada Allah, maka kita bisa dimasukkan kedalam golongan musyrik. Mengapa? Karena, itu berarti kita tidak mengakui bahwa segala sesuatu itu adalah milik Allah, berarti secara tidak langsung kita tidak mengakui keberadaan Allah.

Dan hanya satu jalan agar kita bisa melaksanakannya, yaitu melalui jalan SABAR.

qs2-153

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS.2:153)

Kisah Teladan:

Umar bin Khattab adalah salah seorang khalifah yang terkenal dengan keberaniannya. Bahkan konon bila Umar lewat, iblis pun menyingkir menjauhinya.

Pada suatu hari dijaman kekhalifahannya, Umar sedang di rumah bersama istrinya. Saat itu seorang rakyatnya datang ingin meminta bantuan, sebut saja namanya Fulan. Si Fulan ini ingin meminta nasehat dari sang Khalifah tentang perkara rumah tangga. Tetapi baru saja ia tiba di depan rumah Umar, dari depan pintu ia mendengar suara Umar dan istrinya sedang ribut. Si Fulan menjadi ragu-ragu. Wah, khalifah saja memiliki persoalan yang sama denganku, bagaimana mungkin aku minta nasehat darinya, begitu pikir si Fulan. Tapi ternyata tidak pernah sekalipun didengarnya suara Umar menyahut istrinya dengan emosi. Umar selalu menjawab dengan lemah lembut.

Setelah pertengkaran reda, Umar membuka pintu. Si Fulan yang ragu-ragu segera berbalik, tapi Umar memanggilnya masuk. Si Fulan ditanya apa masalahnya, dan Umar hanya menjawab dengan sabda Rasulullah SAW:

Barangsiapa suami yang sabar terhadap perlakuan buruk istrinya, maka ia akan diberikan ganjaran seperti ganjaran sabarnya Nabi Ayub AS. Dan barangsiapa istri yang sabar terhadap perlakuan buruk suaminya, maka ia akan diberi ganjaran seperti ganjaran sabarnya Asiyah, istri Fir’aun

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: