Pendidikan Islami vs Pendidikan Lainnya

Dulu saya berpikir bahwa yang namanya pendidikan ya.. dimana-mana sama, tujuannya untuk bikin orang pinter. Mau itu dikerjakan umat Islam atau agama lain, mau dikerjakan oleh orang Barat atau Asia, ya sama saja.

Tapi setelah mendengar penjelasan dari seorang praktisi pendidikan Islam, maka baru terbuka mata saya, ternyata beda lho. Perbedaannya terutama disebabkan oleh tujuan dari pendidikan itu sendiri.

Di dalam pendidikan Islami (tarbiyatul islamiyah), seorang peserta didik baru dianggap lulus jika sudah memiliki 3 kriteria utama:

1. Fadhilah

Dalam bahasa Indonesianya disebut dengan Keutamaan. Peserta didik yang telah lulus berarti dia memiliki keutamaan dibanding orang lain. Orang yang menerima pendidikan teknik informatika memiliki keutamaan dalam hal teknologi informasi dibandingkan dengan orang lain yang tidak menerima pendidikan tersebut. Orang yang menerima pendidikan hukum memiliki keutamaan dalam segi hukum dibandingkan orang yang awam hukum.

Dalam istilah sekarang disebut dengan Kompetensi. Kalau bicara kompetensi, disemua jenis pendidikan pasti ada, bahkan sering menjadi tujuan satu-satunya.

2. Amal

Dalam bahasa kita disebut dengan Penerapan. Orang baru akan dianggap berhasil dalam pendidikannya bila ia sudah dapat menerapkan ilmunya dalam bidang yang dikuasainya tersebut.

Dalam jenis pendidikan lain, juga ada, istilah kerennya Link and Match. Jadi ilmu yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sehingga begitu peserta didik terjun ke masyarakat langsung dapat menerapkan ilmunya secara tepat guna.

3. Khair

Diterjemahkan dengan arti Kebaikan. Jadi apapun ilmu yang dipelajari harus dipergunakan untuk kebaikan, bukan sebaliknya. Karena itu dalam pendidikan Islami, pembelajaran mengenai aqidah dan akhlak merupakan salah satu faktor utama.

Nah ini dia yang membedakannya. Dalam sistem pendidikan umum sekarang, sangat sedikit porsi yang diberikan untuk hal ini. Coba kita lihat di pendidikan dasar dan menengah. Ilmu ini hanya diberikan dalam mata pelajaran Agama, itupun dicampur dengan materi fiqih, btq, dan lainnya. Lalu diselipkan juga dalam mata pelajaran Kewarganegaraan, itupun dicampur juga dengan materi sejarah kebangsaan. Sementara di pendidikan tinggi lebih parah lagi. Mata kuliah Pancasila yang pada dasarnya adalah pendidikan mengenai akhlak yang baik, sekarang sudah dihapuskan.

Kesimpulannya? Ya memang beda ya…

Mana yang lebih baik? Bagi saya sih jelas pendidikan Islami, karena itu saya memasukkan anak saya ke Madrasah, kalau bisa malah pinginnya ke Pesantren sekalian. Bagi Anda? Ya.. terserah Anda.

Salam

Widyat Nurcahyo

Tangerang Selatan

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • alivfaizalmuhammad  On Mei 20, 2011 at 5:30 pm

    bisakah pendidikan islami memperbaiki akhlah para siswa di perkotaan yang cenderung pamer gengsi?
    http://alivfaizalmuhammad.wordpress.com

    • Widyat Nurcahyo  On Mei 26, 2011 at 4:10 pm

      Pendidikan formal hanya bisa menangani 20% akhlak, 80% nya lagi hanya bisa dilakukan di lingkungan keluarga. Karena itu Rasulullah mengindikasikan bahwa manusia harus belajar dari buaian hingga ke liang lahat. Jadi pendidikan memang harus dimulai dari rumah. Kalau orang tuanya suka pamer gengsi, sangat mungkin anaknya akan mengikuti.. ya toh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: