Human Information Processing dan Puasa

Yang pernah mempelajari HCI (Human-Computer Interaction) alias IMK (Interaksi Manusia dan Komputer), pasti pernah mempelajari satu bagian ilmu psikologi yang disebut Human Information Processing. Ilmu ini mempelajari bagaimana pengolahan informasi yang diterima manusia sehingga menghasilkan sebuah aksi. Di dalam ilmu Human Information Processing, proses pengolahan informasi dibagi menjadi 3 bagian besar: stimulus, translasi, dan respon. Stimulus yang diperoleh dari lingkungan diidentifikasi, kemudian dilakukan translasi dan memilih respon yang cocok untuknya, terakhir respon motorik yang telah dipilih diprogram / dijalankan.

Ilmu ini mempelajari proses perubahan persepsi-motorik pada skala mikro. Sekarang mari kita memandangnya dari skala yang lebih besar, bagaimana proses pengolahan informasi dan hubungannya dengan perilaku manusia.

Tahap yang paling menentukan dalam urutan stimulus-translasi-respon adalah tahap translasi, karena pada tahap inilah proses pengolahan informasi yang sebenarnya terjadi, dan menentukan respon apa yang akan dilakukan / tidak dilakukan. Dalam hubungannya dengan perilaku manusia, ada 3 komponen yang mempengaruhi tahap translasi ini, yaitu: perut, syahwat, dan hati.

Kebutuhan perut dan syahwat adalah kebutuhan paling mendasar manusia yang mempengaruhi hampir seluruh perilaku manusia sejak manusia ada. Kebutuhan ini pula yang mendasari timbulnya kebutuhan-kebutuhan lain. Segala stimulus dari lingkungan yang diterima manusia, akan diterjemahkan berdasarkan kepada kedua kebutuhan ini, untuk kemudian diberikan respon yang sesuai. Sebagai contoh: Jika seseorang melihat makanan, maka ia akan menerjemahkan informasi ini sesuai dengan kebutuhan perutnya. Jika ia lapar, maka ia akan menyuruh tubuhnya bergerak untuk mengambil dan memakannya. Sebaliknya jika ia tidak lapar, maka ia akan meninggalkannya atau mengambil dan menyimpannya, atau ia akan mengambil dan memberikannya kepada seorang lawan jenisnya untuk memperoleh kebutuhan syahwatnya.

Jika seseorang melihat lawan jenis, apa yang dilakukannya? Sekali lagi stimulus itu akan diterjemahkan sesuai kebutuhan syahwatnya. Sama seperti makanan, jika belum terpenuhi, maka ia akan memenuhinya. Jika sudah terpenuhi, maka ia akan meninggalkannya atau menyimpannya untuk kemudian.

Terdengar kasar? Tetapi itulah perilaku dasar manusia. Semua kebutuhan lain yang membuat perilaku lebih kompleks berasal dari kedua kebutuhan ini. Misalnya kebutuhan sandang dan papan, hanyalah kebutuhan yang timbul untuk melindungi dirinya dari sesuatu yang membuatnya tidak bisa menikmati kedua kebutuhan dasarnya. Kebutuhan akan kekuasaan juga hanyalah sebuah jalan yang timbul untuk bisa memperoleh lebih banyak kedua kebutuhan tersebut.

Lalu dimana tempatnya segala sesuatu yang bersifat mengekang? Seperti etika, moral, kasih sayang? Itulah komponen ketiga: hati. Hati adalah komponen yang diberikan Allah kepada manusia untuk mengontrol kedua komponen sebelumnya, sehingga manusia bisa disebut beradab dan bisa dibedakan dari hewan. Hati menerjemahkan stimulus dari lingkungan dengan kesadaran ilahi. Respon yang diprogram dengan seleksi hati merupakan respon terbaik yang diakui oleh seluruh manusia. Jika seseorang melihat harta, maka ia tidak akan menuruti kehendak perut dan syahwatnya saja, tetapi ia akan menganalisa apakah harta tersebut milik orang lain atau bukan, apakah harta itu bisa diambil tanpa merugikan orang lain atau tidak, apakah halal atau haram.

Tetapi apakah hati selalu bisa mengontrol perut dan syahwat? Tidak, bahkan sangat sulit. Kebanyakan perilaku pada kebanyakan manusia tidak dikontrol oleh hati. Buktinya, lihat saja siaran berita di televisi. Hampir semuanya memberitakan perilaku manusia yang tidak dipengaruhi hati.

Untuk itu Allah memerintahkan untuk berpuasa. Pada saat berpuasa, perut dan syahwat ditekan, diatur sedemikian rupa sehingga bukan menjadi komponen dominan. Sementara hati diagungkan, dilatih melalui berbagai amal baik dan sodaqoh sehingga bisa mempengaruhi hampir seluruh perilaku. Dengan demikian pada saat puasa, manusia diajarkan menjadi manusia yang lebih baik, yang lebih beradab. Dan diharapkan bisa terus dilanjutkan setelah puasa selesai.

Mudah-mudahan puasa kita dalam romadhon ini diterima oleh Allah SWT, dan bisa mempengaruhi perilaku kita menjadi lebih beradab di luar romadhon nanti. Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Semoga Allah SWT berkenan mempertemukan kita dengan Romadhon berikutnya. Amin YRA.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Trackbacks

  • […] Pendapat kedua ada yang menafsirkan bahwa yang dibelenggu adalah semua syaitan, baik bos maupun kroni-kroninya. Lho kok masih ada orang yang mengikuti langkah syaitan? Ya, itu bukan godaan syaitan. Tetapi pengaruh dari nafsu yang tidak bisa dikendalikan. Semua orang memiliki nafsu yang cenderung kepada perbuatan yang dilarang (yang enak-enak). Karena itu Allah memerintahkan berpuasa untuk mengendalikan nafsu tersebut. Seperti yang saya bahas pada posting Human Information Processing dan Puasa. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: