Kultum 02 Ramadhan 1433H : Tujuan Puasa dan Hirarki Kebutuhan Manusia

Assalamu’alaikum wr.wb.

Puasa banyak macamnya. Ada puasa untuk diet agar kurus. Ada puasa untuk demo alias mogok makan. Ada puasa untuk ilmu kebatinan biar sakti. Tapi yang akan kita bahas disini adalah puasa menurut Islam, yang secara hukumnya adalah menahan makan minum dan berhubungan seksual pada waktu terbit fajar hingga terbenam matahari. OK?

Menurut Maslow, manusia memiliki 5 (atau 7) tingkat kebutuhan. Kebutuhan ini berjenjang. Seseorang akan selalu berusaha memenuhi kebutuhan pada tingkat terendah lebih dahulu sebelum beranjak ke tingkat kebutuhan yang lebih tinggi.

Pada jenjang terendah, adalah kebutuhan fisiologis / fa’ali. Kebutuhan ini mencakup urusan perut dan dibawah perut (makan/minum dan hubungan seksual). Ini adalah kebutuhan yang mendasari hampir seluruh aktifitas manusia.

Dalam berpuasa, dari segi hukum, seseorang wajib mengendalikan diri dari kebutuhan ini. Dan secara tujuan, dituliskan secara eksplisit pada QS.2:183, yaitu agar menjadi orang yang bertakwa. Agar bisa mencapai predikat bertakwa, seseorang harus bisa memiliki sifat-sifat Allah di dalam dirinya.

Ditinjau dari segi hukum puasa, sifat Allah yang diusahakan untuk diteladani oleh yang berpuasa adalah: (1) bahwa Dia (Tuhan) memberi makan dan tidak (diberi) makan (QS.6:14); dan (2) Dia (Tuhan) tidak memiliki teman wanita (istri) (QS.6:101).

Keduanya terpilih untuk diteladani karena merupakan kebutuhan fisiologis manusia yang terpenting, dan keberhasilan untuk mengendalikan kebutuhan tersebut akan mengantar kepada kesuksesan pengendalian kebutuhan-kebutuhan lain pada jenjang yang lebih tinggi.

Namun apakah puasa hanya terbatas pada itu saja? Tentu tidak. Rasulullah bersabda, “Sekian banyak orang yang berpuasa yang tidak memperoleh hasil dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”

Jadi yang diteladani tentu saja tidak hanya dua sifat diatas, tetapi seluruh 99 sifat Allah yang harus diteladani dalam berpuasa. Misalnya: Sifat Maha Pengampun dan Maha Pemaaf, diteladani dengan meminta dan memberi maaf saat sebelum dan sesudah puasa. Sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang, diteladani dengan menunaikan zakat fitrah dan memperbanyak sedekah. Sifat Maha Pencipta, diteladani dengan meningkatkan produktifitas selama puasa. Dan seterusnya.

Dengan mencontoh sifat-sifat Allah berarti manusia membangun dan memakmurkan bumi ini, sehingga akhirnya bumi ini akan menjadi bayang-bayang surga, dan manusia menjadi bertakwa.

Rasulullah dalam sebuah hadis qudsi bersabda, “Seorang hamba akan mendekatkan diri kepada-Ku (Tuhan), hingga Aku mencintainya, dan bila Aku (Tuhan) mencintainya, menjadilah pendengaran-Ku yang digunakannya untuk mendengar, penglihatan-Ku yang digunakannya untuk melihat, tangan-Ku yang digunakannya untuk bertindak, serta kaki-Ku yang digunakannya untuk berjalan.”

Marilah kita berusaha meneladani sifat-sifat Allah di dalam kehidupan kita sehari-hari, dimulai dari puasa Ramadhan ini.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: