Kultum 15 Ramadhan 1433H : Puasa, Iman dan Taqwa

Assalamu’alaikum wr.wb.

Menurut alim ulama, iman bisa dibagi menjadi 3 tingkatan.

Tingkatan pertama yaitu Tingkat Iman Materialistis. Pada tingkat ini, seseorang yang beriman melakukan perintah Allah karena mengharapkan balasan dunia. Misalnya seseorang melakukan shalat dhuha karena mengharapkan rizkinya lancar, atau seseorang melakukan sedekah karena mengharapkan balasan yang berlipat. Apakah ini dibenarkan? YA, selama janji itu datang dari Allah. Allah menjanjikan akan rizki dan balasan berlipat, jadi tidak ada salahnya berharap bukan? Tetapi tingkatan iman seperti ini mengandung bahaya. Andaikata seseorang dengan rajin melakukan shalat dhuha karena mengharapkan rizki yang lancar, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, tetapi rizkinya tetap saja seret. Sementara dia melihat tetangganya, jangankan shalat dhuha, shalat fardhu saja belang belang, tetapi dia bergelimang harta, hidup serba kecukupan. Maka orang dengan tingkat iman materialistis akan dengan mudah tergelincir untuk mencari jalan yang lebih mudah. Percuma saja shalat bertahun-tahun tidak ada perubahan, mungkin seperti itu katanya.

Tingkatan kedua adalah Tingkat Iman Komersil. Bagi seorang hamba yang berada pada tingkat ini, melakukan perintah Allah adalah ibarat perdagangan. Dia menjalankan perintah Allah karena janji Allah yang indah, dan menjauhi larangan Allah karena ancaman Allah yang mengerikan. Dia tidak hanya menghitung-hitung balasan di dunia, namun juga menghitung balasan di akhirat kelak. Apakah ini boleh? YA, selama janji itu datang dari Allah. Allah menjanjikan surga yang indah untuk orang yang beribadah, tentu kita boleh mengharapkannya. Tetapi tingkatan iman ini juga memiliki bahaya. Tingkat iman ini mengharuskan orang tersebut luar biasa sabar. Seumur hidupnya ia menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, namun pada suatu saat dia mendapatkan godaan yang hebat, bukan tidak mungkin ia dengan mudah tergelincir untuk mendapatkan sesuatu yang terasa lebih dekat.

Tingkatan ketiga adalah Tingkat Iman Mukhlisin. Pada tingkat ini, seseorang melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah hanya karena itu adalah perintah dan larangan dari Allah. Tidak ada alasan lain. Allah yang menciptakannya, Allah yang menghidupkan dan mematikannya, maka perintah dan larangan Allah adalah mutlak baginya. Ia menjalankannya dengan ikhlas. Inilah tingkatan tertinggi dari iman. Tidak ada yang diharapkannya kecuali ridho Allah SWT.

Puasa melatih kita untuk mencapai tingkatan iman mukhlisin. Allah tidak menyebutkan apa balasan puasa. Allah hanya menyebutkan bahwa “Puasa itu untukKu, dan Aku yang akan membalasnya”. Jadi tidak ada yang diharapkan di dunia, dan tidak bisa pula dihitung-hitung keuntungannya. Satu-satunya yang diharapkan dari puasa adalah “agar kamu bertaqwa”. Apa itu taqwa? Menurut alim ulama, taqwa berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Ibarat naik motor di sebuah jalan yang penuh lubang dan batu. Apakah kita akan berjalan dengan cepat? Tidak mungkin. Pasti akan jatuh tergelincir batu, masuk ke dalam lubang, atau sekalian nyebur ke dalam got. Kita harus berhati-hati melewatinya agar bisa sampai dengan selamat. Begitu juga taqwa. Taqwa mengandung makna kehati-hatian. Hati-hati dalam berbicara, hati-hati dalam mendengar, hati-hati dalam melihat, hati-hati dalam bertindak, hati-hati dalam berpikir, hati-hati dalam merasa, hati-hati dalam semua hal yang kita lakukan, agar tidak tergelincir batu dosa atau terjerumus ke lubang maksiat atau masuk ke dalam got syirik. Taqwa mengandung makna melakukan segala sesuatu dengan pandangan ilahi. Jika hendak melakukan sesuatu, yakinkan dulu apakah hal tersebut sesuai yang diinginkan oleh Allah SWT. Dan semua itu kita latih dengan cara berpuasa. Karena di dalam berpuasa kita tidak hanya menahan lapar, dahaga dan birahi saja, namun juga menjaga mulut, mata, telinga, tangan, kaki, pikiran, dan hati agar selalu berada di jalanNya.

Mudah-mudahan puasa kita bisa menghantarkan kita menjadi orang yang bertaqwa dan memperoleh derajat iman orang-orang mukhlisin. Amin YRA.

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: